Showing posts with label Artikel Koran Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Koran Pendidikan. Show all posts

Thursday, March 13, 2014

Arikel Kartun Koran Teropong













Menyiapkan Generasi Tangguh dan Berdaya Saing Global melalui Kartun Si Panji: Dongeng Asli Anak Indonesia Berbasis Pendidikan Karakter

Umi Salamah

Mengapa ada bangsa yang rakyatnya bekerja keras untuk maju dan ada yang tidak. Hasil penelitian McClelland menjawab: dua negara raksasa (Spanyol dan Inggris) yang awalnya sama-sama kaya itu kini berbeda.  Sejak Abad-16 Inggris terus berkembang menjadi makin besar, sedangkan Spanyol menurun menjadi makin lemah

Mengapa sangat perlu Kartun si Panji?
   Maraknya kartun dan komik impor yang ada di Indonesia saat ini telah terbukti memberikan karakter yang nano-nano bagi bangsa Indonesia. Karakter yang terbentuk lebih banyak bersifat pragmatis, hedonis, dan hipokrit. Mengapa demikian? Pendidikan karakter yang dihasilkan dari kartun impor tidak berpondasikan ideologi Pancasila, sehingga tidak bisa membangun karakter bangsa yang kokoh. 

Friday, November 1, 2013

SUMPAH PEMUDA DAN PENDIDIKAN KEBUDIUTAMAAN

 







Artikel Koran Pendidikan Edisi 30 Oktober-5 November 2013



SUMPAH PEMUDA DAN PENDIDIKAN KEBUDIUTAMAAN
Oleh Umi Salamah
Ka. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Budi Utomo Malang


“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, namun satu orang pemuda dapat mengubah dunia” “Ayo bangkit! dan berjuanglah untuk Indonesia, wahai Pemuda Indonesia,” (Soekarno).

Refleksi Sumpah Pemuda dan Ttumbuhnya semangat nasionalisme
Peristiwa 28 Oktober, 85 tahun lalu merupakan peristiwa yang benar-benar super heroik. Bagimana tidak, di tengah penjajahan kolonial Belanda yang dikenal sangat kejam, sekelompok pemuda yang terhimpun dalam organisasi Perhimpunan Indonesia, dengan gagah berani mengikrarkan “Satu tanah air, Satu bangsa, dan Satu bahasa, yakni Indonesia”. Tanpa ikrar sumpah pemuda, barangkali sampai saat ini kita belum bisa merdeka. 

Sunday, August 4, 2013

Artikel Pendidikan Karakter




 
RAMADHAN DAN EFISIENSI PENDIDIKAN KARAKTER


Umi Salamah
Ketua Prodi PBSI IKIP Budi Utomo Malang

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد

Perintah puasa sesungguhnya hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Oleh karena itu tidak ada kewajiban bagi orang yang tidak beriman untuk berpuasa. Hal ini dipertegas oleh firman Allah yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertaqwa (QS. Al Baqarah:1983).  Ayat ini tidak sekedar perintah untuk berpuasa bagi orang-orang beriman tetapi juga merupakan pendidikan toleransi yang sangat indah. Orang berpuasa yang dilandasi dengan iman tidak sekedar menahan lapar dan dahaga selama imsak sampai maghrib, tetapi juga diwajibkan untuk mengendalikan diri dari berbagai nafsu yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Untuk itu Allah menyediakan pahala dan kebahagiaan yang sangat besar bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.
Itulah sebabnya setiap orang mukmin selalu berharap dapat bertemu dengan bulan ramadhan, bulan yang penuh dengan rahmat, barakah, kemuliaan, dan ampunan. Mengapa demikian? Ternyata puasa ramadhan memiliki rahasia dan hikmah yang sangat banyak untuk membetuk karakter manusia menjadi lebih baik dan bertaqwa. Pembentukan karakter yang dilandasi dengan ketaqwaan kepada Allah akan mendatangkan perdamaian dan kemaslahatan (manfaat) bagi kehidupan manusia. Di antara rahasia dan hakikat puasa  Ramadhan adalah membiasakan kita bersikap jujur, konsisten, dan ikhlas, disiplin dan sungguh-sungguh, memiliki kepekaan sosialyang tinggi, memiliki keseimbangan kecerdasan emosional dan spiritual,menjaga keseimbangan kesehatan jasmani dan rahani, dan selalu bersyukur kepada Allah.

Saturday, July 13, 2013

Pendidikan Neopatrionalisme





PENDIDIKAN NEOPATRIONALISME
Oleh: Umi Salamah

Membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme tidak harus dengan “kekerasan”.
Menang atau bisa bertahan dalam medan perang sangat tergantung pada strategi yang dimainkan. “Perang” terbesar saat ini adalah melawan hegemoni kapitalis dalam berbagai bidang yang merupakan perwujudan dari neoimperialis. Cara yang dilakukan oleh para teroris dengan bom bunuh diri atau mengebom yang dilakukan atas nama melawan kapitalis merupakan tindakan “konyol” dan sia-sia.  Image “bodoh” dan “jahat” akan menempel pada pelaku pengeboman dan kelompoknya. Yang lebih fatal jika asal negara pengebom juga dijuluki sebagai negara teroris. Lebih fatal lagi apabila pelabelan tersebut diperlakukan bagi seluruh masyarakat dari negara yang disebut sebagai asal “teroris”. Seharusnya perang kecerdasan harus dilawan dengan kecerdasan, pencitraan dilawan dengan pencitraan, difusi kebudayaan harus dilawan dengan kekuatan kebudayaan sendiri.